Seni dan Budaya

Bentara Budaya

Awalnya, Bentara Budaya didirikan di Yogyakarta, 26 September 1982, di Jalan Jend Sudirman 56. Pendirian lembaga ini ditujukan untuk menampung dan mewakili wahana budaya bangsa dari berbagai kalangan, latar belakang, dan cakrawala yang berbeda.

Setelah itu menyusul berdiri Bentara Budaya Jakarta yang berlokasi di Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta. Eksistensi Bentara Budaya Jakarta ditandai dengan pameran keramik Studio Titik Temu Tembikar oleh pengrajin Liosadang, Purwakarta, dimotori oleh seniman Adi Munardi (alm), tahun 1985.

Bentara Budaya (Yogyakarta, Jakarta, & Bali) serta Balai Soedjatmoko di Solo telah menjadi lembaga seni budaya nasional dan secara teratur mengadakan beragam acara seni budaya dan kesenian, seperti pameran, pagelaran, pemutaran film dan diskusi bulanan.

Tidak hanya mempresentasikan budaya tanah air, Bentara Budaya juga sering mengadakan kerja sama dengan lembaga seni lainnya dan menjadi tempat terselenggaranya acara seni budaya lintas negara. Bentara Budaya didirikan oleh Harian Kompas dan didukung operasionalnya oleh Kompas Gramedia.

Di kalangan penerbit media, ada kebiasaan mengumpulkan benda-benda langka yang memiliki nilai antik. Kompas pun begitu. Ketika jumlah koleksi yang dirintis oleh almarhum PK. Ojong semakin banyak, muncul masalah. Akan ditempatkan di mana dan akan dimanfaatkan secara bagaimanakah benda-benda itu selanjutnya?

Kemudian datang tawaran dari Kudus, Jawa Tengah, berupa sebuah rumah tradisional asli yang masih bagus, utuh, dan akan dijual. Jumlah rumah adat Kudus yang bagus dan utuh hanya tinggal segelintir, lainnya hijrah ke luar negeri, beberapa lagi ditanggalkan sejumlah bagiannya untuk melengkapi rumah-rumah puncak di kota-kota besar Indonesia. Jika demikian, apa salahnya rumah yang ditawarkan itu diambil dan dipugar? Hanya saja, lokasinya bukan di Kudus, melainkan di Jakarta. Rumah itu pun dibangun ulang di area kompleks perkantoran Kompas Gramedia di Palmerah Selatan, sekaligus digabungkan dengan rencana untuk membangun balai pertemuan dan tempat menyimpan serta mempertontonkan koleksi benda-benda seni Kompas Gramedia. Pemiliknya bukan perseorangan, melainkan lembaga. Dengan demikian, diharapkan pemeliharaan dan kelestariannya menjadi lebih terjamin.

Di posisinya kini, peninggalan antik Rumah Kudus ini diharapkan akan lebih banyak dikunjungi masyarakat luas, dinikmati, dikagumi, dan menjadi salah satu inspirator untuk mengembangkan seni ukir Indonesia. Usaha kita bersama adalah menjadikan Rumah Kudus di Bentara Budaya Jakarta ini sebagai salah satu tempat berolah seni, kreativitas, dan kebudayaan.

(dikutip dari tulisan Jakob Oetama, Presiden Komisaris Kompas Gramedia)

Pendidikan

Kompas Gramedia terus-menerus melaksanakan komitmennya untuk turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendidikan di tanah air, terutama melalui berbagai produk dan jasanya.

Mulai dari mendirikan lembaga pendidikan dan pelatihan, pemberian beasiswa kepada masyarakat, keluarga loper koran, pembangunan perpustakaan dan komunitas baca, perbaikan sekolah, program pelatihan perpustakaan, hingga program mengajar siswa-siswi sekolah dasar dengan terjunnya karyawan Kompas Gramedia langsung ke sekolah-sekolah dasar di sekitar kantor lewat kegiatan Inspirasi KG.

Enlightening People harus benar-benar menjadi nilai dasar kami sehari-hari dalam bekerja, untuk selalu peduli pada sesama, selalu berbuat baik bagi sesama, dan selalu menghargai sesama. Menjadi kebanggaan bagi kami, keluarga besar Kompas Gramedia, untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
© 1963 - 2017  Kompas Gramedia - All rights reserved.
Website by PandavaMedia